PENDAHULUAN
Seiring dengan berkembangnya dunia
pendidikan yang semakin modern yang tidak hanya mengandalkan materi dan buku,
tetapi perlunya praktek dengan cara terjun langsung mengamati objek yang
dipelajari, sehingga pelajaran lebih efektif dan efisien.
Serta supaya bertambahnya wawasan
dan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan yang ada di Indonesia, dan
menjadikan kami menjadi siswa yang memiliki jiwa patriotism dan nasionalisme
terhadap Negara Indonesia.
Desa Panglipuran terletak di Jalan
Penglipuran, Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Bali. Desa Penglipuran merupakan desa
adat Bali yang masih sangat kental dengan keramahan dan kerukunan mereka. Desa
ini juga ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Bangli pada
tahun 1995.
Desa Panglipuran sendiri memiliki arti pengiling pura yang bermakna
tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur. Desa Panglipuran
termasuk desa tradisional dengan style bangunannya yang sangat khas yang
bersifat saearah dari utara ke selatan yang setiap rumahnya memiliki gapura
yang sama.
Hanya di Desa Panglipuran kita dapat menemukan rumah tradisional Bali
asli sampai sekarang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.
Keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah rumah yang berjajar rapi antara
rumah satu dengan yang lain. Eksterior yang dimiliki rumah-rumah Desa
Panglipuran ini pun sama dengan yang lain. Bahannya juga sama seperti tembok
yang terbuat dari tanah atap yang
terbuat dari bambu. Tidak semua lahan di desa
digunakan untuk perumahan, kurang lebih 40% dimanfaatkan sebagai lahan bambu
karena bambu tumbuh dengan subur di sini. Warga Desa Panglipuran memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan atap
dan untuk upacara kematian.
Pintu masuk ke rumah disebut angko-angko, mereka membangunnya sengaja
agar tidak dibuat lebar agar motor tidak bisa masuk. Tiap gerbang rumah desa
ditulisi keterangan nama pemilik rumah dan anggota keluarga. Tumbuhan bunga
kamboja yang tidak pernah absen dalam setiap langkah memasuki desa ini sebagai
kekhasan Bali sendiri. Keistimewaan yang membuat desa terlihat asri dan bersih
adalah warga yang berjualan tidak meletakkan toko mereka di pinggir jalan utama,
melainkan didalam area rumah.
Dalam satu pekarangan ada 5 bangunan
yang terpisah yang memiliki nama dan fungsi masing-masing. Yang dibangun
terlebih dahulu adalah tempat ibadah yang posisinya ada di timur laut di
lingkungan pekarangan. Lalu dibangun rumah yang berada di sebelah utara
menghadap selatan yang berfungsi sebagai tempat tidur remaja putri. Selanjutnya
yang berada di sebelah barat yang mengahadap ke timur/selatan yang disebut bali
loji yang berfungsi untuk tempat tidur remaja putra. Setelah dibangun sebuah
rumah yang berada di sebelah timur menghadap ke barat yang disebut bali dangin.
Bangunan ini memiliki 2 fungsi yaitu yang di belakang ada tempat tidur kakek
dan nenek, sedangkan didepannya ada tepat untuk menaruh sesaji apabila ada
upacara dalam lingkungan pekarangan itu. Yang kelima barulah dibangun sebuah
pawon (dapur) yang berada di selatan menghadap ke utara. Pawon ini memiliki 2
fungsi juga, sebelah kanan adalah tempat tidur untuk ayah, ibu, dan anak kecil
dibawah umur.
Pada intinya, Desa Panglipuran ini
adalah desa tradisional yang masih kental adatnya. Menghormati para leluhur
adalah prinsip utama dalam sebuah desa yang syarat akan kerukunan dan keasrian
ini.
Daftar Pustaka :
http://www.balitoursclub.com/berita_102_Desa_Penglipuran_di_Bangli.html
http://www.kompasiana.com/delianasetia/penglipuran-desa-adat-bali-dengan-kearifan-lokal-yang-kental_552fa75f6ea8346e0d8b4590

