Rabu, 20 Juli 2016

Eksplorasi Pondok Penglipuran





 PENDAHULUAN
            Seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan yang semakin modern yang tidak hanya mengandalkan materi dan buku, tetapi perlunya praktek dengan cara terjun langsung mengamati objek yang dipelajari, sehingga pelajaran lebih efektif dan efisien.
            Serta supaya bertambahnya wawasan dan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan yang ada di Indonesia, dan menjadikan kami menjadi siswa yang memiliki jiwa patriotism dan nasionalisme terhadap Negara Indonesia.



            Desa Panglipuran terletak di Jalan Penglipuran, Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Bali. Desa Penglipuran merupakan desa adat Bali yang masih sangat kental dengan keramahan dan kerukunan mereka. Desa ini juga ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Bangli pada tahun 1995.
Desa Panglipuran sendiri memiliki arti pengiling pura yang bermakna tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur. Desa Panglipuran termasuk desa tradisional dengan style bangunannya yang sangat khas yang bersifat saearah dari utara ke selatan yang setiap rumahnya memiliki gapura yang sama.
Hanya di Desa Panglipuran kita dapat menemukan rumah tradisional Bali asli sampai sekarang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka. Keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah rumah yang berjajar rapi antara rumah satu dengan yang lain. Eksterior yang dimiliki rumah-rumah Desa Panglipuran ini pun sama dengan yang lain. Bahannya juga sama seperti tembok yang terbuat dari tanah  atap yang terbuat dari bambu. Tidak semua lahan di desa digunakan untuk perumahan, kurang lebih 40% dimanfaatkan sebagai lahan bambu karena bambu tumbuh dengan subur di sini. Warga Desa Panglipuran memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan atap dan untuk upacara kematian.
Pintu masuk ke rumah disebut angko-angko, mereka membangunnya sengaja agar tidak dibuat lebar agar motor tidak bisa masuk. Tiap gerbang rumah desa ditulisi keterangan nama pemilik rumah dan anggota keluarga. Tumbuhan bunga kamboja yang tidak pernah absen dalam setiap langkah memasuki desa ini sebagai kekhasan Bali sendiri. Keistimewaan yang membuat desa terlihat asri dan bersih adalah warga yang berjualan tidak meletakkan toko mereka di pinggir jalan utama, melainkan didalam area rumah.



            Dalam satu pekarangan ada 5 bangunan yang terpisah yang memiliki nama dan fungsi masing-masing. Yang dibangun terlebih dahulu adalah tempat ibadah yang posisinya ada di timur laut di lingkungan pekarangan. Lalu dibangun rumah yang berada di sebelah utara menghadap selatan yang berfungsi sebagai tempat tidur remaja putri. Selanjutnya yang berada di sebelah barat yang mengahadap ke timur/selatan yang disebut bali loji yang berfungsi untuk tempat tidur remaja putra. Setelah dibangun sebuah rumah yang berada di sebelah timur menghadap ke barat yang disebut bali dangin. Bangunan ini memiliki 2 fungsi yaitu yang di belakang ada tempat tidur kakek dan nenek, sedangkan didepannya ada tepat untuk menaruh sesaji apabila ada upacara dalam lingkungan pekarangan itu. Yang kelima barulah dibangun sebuah pawon (dapur) yang berada di selatan menghadap ke utara. Pawon ini memiliki 2 fungsi juga, sebelah kanan adalah tempat tidur untuk ayah, ibu, dan anak kecil dibawah umur.
            Pada intinya, Desa Panglipuran ini adalah desa tradisional yang masih kental adatnya. Menghormati para leluhur adalah prinsip utama dalam sebuah desa yang syarat akan kerukunan dan keasrian ini.


Daftar Pustaka :
http://www.balitoursclub.com/berita_102_Desa_Penglipuran_di_Bangli.html
http://www.kompasiana.com/delianasetia/penglipuran-desa-adat-bali-dengan-kearifan-lokal-yang-kental_552fa75f6ea8346e0d8b4590